Rabu, 08 Januari 2020

Alasan Pergi ke Grapari

Disini adakah yang pernah pergi ke grapari? Jika ada bisakah kalian tulis pengalaman dan hasil dari kalian pergi ke tempat tersebut?


Semua ini terjadi ketika aku dilanda kegabutan tingkat dewa malam hari. Aku sedang menyimak sambil menunggu pemateri selesai menjawab pertanyaan yang diberikan oleh beberapa anggota dari salah satu grup kepenulisan yang aku ikuti di WhatsApp. Entah dari mana datangnya ide 'coba-coba' memainkan pengaturan WhatsApp tersebut. Awalnya aku ragu, takut salah klik dan semua chat yang penting terhapus. 


Akhirnya kemarin malam itu menurutku ini adalah ide yang cemerlang. Pikirku, sebelum mengotak-atik alangkah lebih baiknya aku pastikan semua pesan sudah dicadangkan. Jadi jika ter-log out bisa log-in kembali dan history chat tetap ada. 


Dengan bahagia jari-jemariku menari di atas layar smartphone. Mengklik, mengatur apa saja yang selama ini menjadi pertanyaan di dalam hati. Jika aku mengklik ini, dan ini, atau yang itu apa yang akan terjadi?


Aku berbicara sendiri di dalam hati, "Oh iya, aku ingat. Waktu pertama beli smartphone baru dan memasang WhatsApp menggunakan nomor yg lama eh sebagian history chat dan grub penting masuk ke smartphone yang baru. Coba aku cadangkan dulu semuanya, lalu uninstall WhatsApp dan buka WhatsApp di smartphone yang lama. Jadi pasti semua chat yang lama dan yang baru tercadangkan semuanya."


Akupun hapus instalan aplikasi WhatsApp di smartphone yang baru. 


"La la la," Aku bersenandung kecil sambil berjalan ke kamar, mengambil smartphone lama, menghidupkan wifi, memasukan sandi wifi, koneksi internet tersambung, lalu membuka WhatsApp. 


Jeng... Jeng... Jeng...


Tertulis jelas di layar smartphone seperti ini : Tidak dapat masuk ke akun WhatsApp anda karena perangkat lain sudah menggunakan nomor yang sama. 


Jari-jemariku yang tadinya sedang menari nan bahagia mendadak lemas. Aku terdiam sebentar. Bengong. Aku hanya diam menatap layar smartphone yang berubah menunjukan tampilan awal jika masuk ke aplikasi WhatsApp. Yups harus memasukan nomor. 


Di smartphone yang baru, kan, WhatsAppnya sudah aku hapus. Kenapa tidak bisa masuk ke smartphone yang lama? Kenapa tulisannya perangkat lain menggunakan nomor yang sama?Apa yang sudah aku lakukan? Aku dengan tenang kembali memasukan nomor ponselku. Lalu menunggu kode verifikasi. Waktu yang ditentukan sudah lewat. Tidak ada kode verifikasi dari WhatsApp. Aku klik verifikasi melalui telepon. 


Bukan hanya jari, tapi jantungku juga ikut lemas. Disitu tertulis nomor yang di tuju tidak bisa menerima panggilan. Aku langsung cek bar smartphone. Biarlah orang bilang aku lebay. Tapi ini rasanya aku terkena serangan jantung ringan. Benar-benar terkejut melihat jaringan kartu dari telkomsel menjadi hanya panggilan darurat. 


Apa kartuku sudah mati? Tapi sejak kapan? Tidak ada pesan peringatan masa tenggang dari telkomsel. Kemarin kartuku masih baik-baik saja. Kenapa sekarang jaringannya mendadak menghilang menjadi hanya panggilan darurat? Cukup si dia yang mendadak hilang, sim card jangan ikutan. 


Keesokan harinya, pagi-pagi aku sudah melamun. Jika orang lain termenung karena sang kekasih, tapi aku menjadi diam karena pusing memikirkan sim card. 


Aku duduk sambil menatap layar smartphone bak seorang insan yang bersedih karena menunggu kabar yang tak kunjung datang dari kekasihnya. "Kenapa nangis?" Tanya ayahku yang memang sudah lama duduk di sampingku. 


Padahal aku tidak menangis. Cuman memang terlihat jelas wajah sedihku. Aku hanya menggeleng kepala lemah. "Heleh galau... haha paling nggak dikasi kabar sama doinya." Ledek ayahku. Aku lirik beliau baru saja selesai menyeruput kopi kemudian menertawaiku. 


Ayah sekali mendayung dua pulau terlampaui. Benar-benar double kill, langsung menusuk ke jantungku. Sudah galau karena sim card di tambah galau dengan ayah yang mengingatkan tentang doi. Bagaimana doi mau memberi kabar jika jaringan kartu saja menghilang?


Tapi ayah, bagaimana aku bisa dapat kabar dari doi sementara anak gadismu ini saja seperti Janie Black Pink, i'm solo :') tapi tak usah khawatir ayah. Aku memang punya prinsip tidak mau duet sebelum bisa meraih cita-cita dan membahagiakanmu juga ibu. Tak usah khawatir pula tentang asmaraku karena aku sudah punya tambatan hati. Sengaja aku tidak ingin mengikat hubungan yang tak pasti. Nanti saja, langsung ikat dengan tali pernikahan. Semoga semesta menakdirkan aku dan dia berjodoh. Sama halnya dengan sim card. Semoga sim card ini masih menjadi jodoh smartphoneku. Jika tidak, aku harus mengikhlaskannya :')


"Besok kita ke grapari ya," Ucap ayah.


"Ayahkan besok kerja?" Tanyaku.


"Bisa izin sebentar," Jawab ayah. 


Ayah memang pahlawanku. 


Sama halnya seperti jatuh cinta. Aku tidak boleh berharap terlalu tinggi kepada petugas grapari yang akan aku temui nanti. Supaya ketika sim cardku tak bisa dipulihkan, aku bisa mengikhlaskannya meski berat hati ini. 


Kisah ini terjadi pada 07 April 2019.

x